-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Syarikat Islam, Semangat Sosialisme Umat Menuju Peradaban Islam

Jumat, 23 Januari 2026 | Jumat, Januari 23, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-23T09:45:31Z
iklan

Gusmizar 

 



SI dan Semangat Sosialisme Islam dan Kekuatan Umat


Oleh : Gusmizar

Pranata Humas Ahli Muda pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pasaman Barat, dan Praktisi Jurnalis di Pasaman Barat.


SYARIKAT Islam atau SI, 

S merupakan salah satu organisasi keagamaan dan sosial tertua di Indonesia yang telah memberikan kontribusi besar dalam pembentukan identitas nasional dan transformasi sosial-ekonomi bangsa. Berdiri sejak tahun 1905,


SI menjadi pionir gerakan kebangkitan nasional yang mengusung semangat sosialisme Islam dan memperjuangkan kepentingan umat (ekonomi kerakyatan) dalam bingkai keislaman yang inklusif dan progresif. 


Dalam kiprahnya yang telah melintasi lebih dari satu abad, SI telah membangun fondasi kuat bagi pergerakan Islam Indonesia, khususnya dalam mengedepankan keadilan sosial, ekonomi umat, serta strategi politik tanpa harus menjadi partai politik.


*Sejarah SI*

Dinamika internal dan eksternal yang begitu kompleks, termasuk perpecahan organisasi, transformasi orientasi, hingga peranannya dalam politik nasional tanpa harus kehilangan identitas sebagai organisasi massa (ormas) Islam. 


Dalam konteks ini, SI berhasil menjaga relevansi dan eksistensinya sebagai kekuatan umat yang terus berorientasi pada pembaruan pemikiran Islam dan penguatan ekonomi rakyat. 


Esensi sosialisme Islam yang diusung SI menempatkan keadilan sosial dan kedaulatan ekonomi sebagai pilar utama, berbeda secara mendasar dengan sosialisme komunis.


Strategi dan program SI, baik dalam pendidikan rakyat, pemberdayaan ekonomi, maupun aksi sosial-politik, selalu diarahkan untuk membangun karakter umat dan kemandirian bangsa Indonesia yang bermartabat.


Semangat sosialisme Islam yang berorientasi kekuatan umat menjadi landasan utama SI dalam menjaga kemurnian organisasi serta peranannya dalam menjaga Indonesia. yang  merefleksikan capaian historis, transformasi gerakan, serta strategi SI dalam menghadapi tantangan zaman, khususnya menjaga idealisme sosialisme Islam, memperkuat ekonomi kerakyatan, dan berkontribusi dalam pembangunan nasional.


Perjalanan SI tidak terlepas dari dinamika internal yang sangat kompleks, termasuk perpecahan organisasi dan perubahan orientasi gerakan. Pada periode 1920-an, SI mengalami perpecahan akibat perbedaan pandangan antara kelompok yang mengedepankan sosialisme Islam dan kelompok yang terpengaruh oleh paham sosialisme-komunis.


Perpecahan ini melahirkan dua faksi utama, yaitu SI Putih (yang tetap berpegang pada asas Islam) dan SI Merah (yang cenderung pada sosialisme sekuler).Pada periode selanjutnya, SI terus mengalami transformasi, khususnya pada era kepemimpinan Prof. Dr. Hamdan Zoelfa yang menegaskan bahwa "SI tidak akan menjadi partai politik.


Pernyataan tegas Hamdan Zoelfa bahwa "jangan mimpi menjadikan SI sebagai partai politik" menegaskan posisi SI dalam kancah politik nasional yang lebih menekankan pada peran advokasi, edukasi, dan pemberdayaan umat, tanpa harus terjebak haus kekuasaan dalam pragmatisme partai politik.


Pada masa Jepang (1942-1945), SI mengalami tekanan hebat dengan dilikuidasinya organisasi-organisasi Islam, sehingga SI bersama organisasi lain membentuk Masyumi sebagai benteng siyasah (politik) umat Islam.


Namun, setelah kemerdekaan, SI tetap mempertahankan eksistensinya sebagai organisasi massa yang berperan aktif dalam pembangunan nasional melalui jalur non-partai. (*)

............ Dari berbagai sumber.........

iklan

klan ukuran 250px x 250px

×
Berita Terbaru Update