Pasaman Barat, smartsumbar.com, - Secara nasional, pondok pesantren, seperti di Pasaman Barat, keberadaan dan eksistensinya, tidak lagi dianggap sebelah mata. Keberadaannya telah sama dan alumninya sejajar dengan tamatan lembaga pendidikan lain.
Di lingkungan Kementerian Agama, institusi pengelola pondok pesantren, bukan lagi setingkat eselon 2 atau direktotur di lingkungan direktorat jenderal (Ditjen) Pendidikan Islam. Hal ini berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2026 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 152 Tahun 2024 tentang Kementerian Agama yang terbit pada 27 Maret 2026.
Sesuai pelantikan pejabat setingkat eselon 1 di lingkungan Kementerian Agama, maka dilantiklah Basnang Said, sebagai Dirjen Pesantren, sekaligus sebagai pejabat setingkat eselon 1 pertama di lingkungan Kementerian Agama. Namun untuk tindaklanjuti atas dilantiknya dirjen pesantren di lingkungan Kementerian Agama, untuk tingkat wilayah dan kabupaten atau kota, masih dalam pembahasan tindak lanjut di jajaran Kementerian Agama pusat.
"Setelah terbentuknya Ditjen Pesantren sebagai satuan kerja baru setingkat eselon I di Kementerian Agama. Ditjen Pesantren kini tidak lagi menjadi bagian dari Ditjen Pendidikan Islam dalam susunan organisasi Kementerian Agama", jelas Thomas Febria, melalui amanat apelnya di halaman kantor itu, Simpang Empat, Senin (26/10) pagi.
Seiring hal itu, ulasnya, maka keberadaan pondok pesantren saat ini tidak lagi dipandang sebelah mata karena telah bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang sejajar, modern, dan strategis dalam mencetak berbagai profesi serta pemimpin bangsa.
Pendidikan Formal Terintegrasi: Banyak pesantren kini menyelenggarakan pendidikan formal yang setara dengan SMP/MTs dan SMA/SMK/MA, sehingga lulusannya memiliki peluang karier yang sangat luas di berbagai bidang.
Pusat Pembentukan Karakter: Selain pengajaran ilmu agama, pesantren merupakan ekosistem tarbiyah (pendidikan nilai kemanusiaan, kemandirian, dan keteladanan) yang utuh.
Pesantren tetap mempertahankan elemen tradisional yang unik, seperti kyai, masjid, pondok tempat tinggal santri, santri, dan kajian kitab kuning, termasuk di Pasaman Barat yang hingga saat ini memiliki 35 pondok pesantren, dan berada di setiap kecamatan se Pasaman Barat. (gmz)
